Pages

Thursday, October 8, 2015

Mahasiswa dan Mahasiswi bebal (?)

Saat berada di dunia perkuliahan, suasana akan jauh berbeda.
Dosen-dosen yang berbeda-beda setiap kelas.
Dosen yang memiliki sifat-sifat berbeda.
Dosen yang memiliki preferensi berbeda.
Kenali dosen anda.
Jangan dipukul rata.
1 salah yang kena bisa 1 kelas, demikian di fakultas Kedokteran yang dipandang orang tinggi.
Sebenarnya kuliah kedokteran tidak bisa dibilang tempat orang kaya raya yang uangnya tidak habis dibakar jadi pesugihan atau tempat orang terlalu jenius sampai sampai tidak manusiawi.

Di kedokteran, anda bisa menemukan berbagai macam manusia yang sama seperti yang bisa anda temukan dimana pun.
Disini juga ada manusia yang malas dan suka 'mabal'.
Disini juga ada yang tidak pernah belajar tapi nilainya A terus.
Disini ada yang rajin dan ngotot belajar sampai jadi disconnected dari dunia ( baca : jadi lemot dan ling lung ).
Disini ada yang average.
Disini ada yang rajin dan masih waras.
Disini ada yang pintar tapi memilih buat normal-normal saja.
Ada yang hidupnya jetset total sampai yang sederhana total.
Ada yang slutty ada yang alim nya kayak masih hidup di tahun 1800.
Ada yang religius ada yang atheis.
Intinya, mereka manusia biasa.
Tidak ada yang perlu dibanggakan berlebihan.
Kecuali jika sudah melayani sebagai dokter.
Masih mahasiswa dan mahasiswi, apa sih artinya?
Bisa menolong orang saat darurat? Mungkin hanya yang di TBM saja.
Sisanya? Hanya bisa menghapal tanpa menalar. Atau malah tidak bisa apa-apa.

1 kelemahan fatal anak-anak FK adalah kurangnya nalar.
Mereka beranggapan dengan menghapal maka semuanya beres.
Padahal ini bukan masalah menghapal, tapi memahami.

Contoh yang sangat sederhana.
Suatu hari ada kelas dimana dosen yang mengajar termasuk dokter yang disiplin tinggi.
Seorang mahasiswi terlambat datang dengan polosnya.
Dosen tersebut marah dan mengancam dalam hitungan 3. Salah satu harus keluar.
Hingga hitungan 3, mahasiswi itu terus memohon-mohon dan tidak mau memahami prinsip tadi di atas ( 1 bikin masalah, 1 kelas kena ). Dosen berjalan keluar tanpa menoleh.
Baru si mahasiwi itu memutuskan keluar kelas.
Terlambat sekali ya.
Logis saja.
Sudah tahu kelas jam sekian.
Aturannya tidak boleh terlambat lebih dr 5 menit.
Dia pasti tau konsekuensi jadi mahasiswi FK seperti apa.
Pasti tahu dosen tersebut dosen yang tidak bisa ditawar.
Masih bersikeras.
Siapa yang tidak menghargai siapa?
Siapa lebih tinggi dari siapa?

Sebenarnya siapa yang salah?
Di dunia perkuliahan, Dosen itu segalanya.
Bisa bikin sukses, bisa bikin gagal.
Pikir saja dengan logis bagaimana seharusnya jika anda ingin sukses.

Ada dosen yang berbaik hati cerewet dan terus mengingatkan cara bertutur kata dan bersikap yang baik, tapi.malah dianggap sebagai dosen galak.
Memang ada dosen yang suka marah-marah tanpa alasan jelas.

Jadi mahasiswa dan mahasiswi itu tidak boleh bebal.
Harus fleksibel.
Lagipula prinsip hidup itu kan gunakan apa yang bisa digunakan.
Terkesan manipulatif.
Tapi memang begitu.
Kita butuh 'alat' untuk semuanya.
Sahabat sebagai 'alat' melepas stress, penat, kesedihan, dan segala yang lain.
FWB sebagai 'alat' mengisi kesendirian sementara.
Pacar atau suami sebagai 'alat' untuk memenuhi kuota dicintai dan mencintai.
Orang tua sebagai 'alat' pemberi uang dan kasih sayang tanpa syarat sekaligus pengontrol.
Lihat?
Semua hanya alat.
Tergantung bagaimana anda mau memperlakukan alat-alat itu.
Dengan tulus? Dengan licik? Dengan dingin?
Itu terserah anda.
Ingat, dunia ini abu-abu. Tidak ada salah dan benar mutlak.
Semuanya subjektif.
Karena semua subjektif, tidak ada seorang pun berhak menghakimi anda dengan cara apapun.
Semua orang menggunakan orang lain untuk tujuan tertentu.
Itu mutlak.
Yang membedakan adalah bagaimana anda menggunakan dan memperlakukan manusia-manusia itu.

Renungkan baik-baik.

No comments:

Post a Comment