Semua bisnis pasti setuju bahwa konsumer atau kostumer adalah raja. Hal ini disebabkan bisnis membutuhkan dana yang dimiliki konsumen. Konsumen tentu akan mengeluarkan uang ketika dia mendapatkan yang dia inginkan.
Layanan yang baik, produk yang baik, dan tempat yang nyaman.
Konsumer datang dari berbagai kalangan yang juga bergantung dari tempat bisnis itu.
Bila sejenis restoran, tentu menengah ke atas banyak yang datang sebagai konsumer.
Konsumer adalah manusia dan pemberi layanan adalah manusia.
Sesama manusia seharusnya bisa saling berempati.
Manusia memiliki nilai moral dan kesopanan apalagi di Jawa!
Manusia yang melayani tentu diberi prosedur oleh atasannya.
Prosedur di sebuah kedai atau restoran adalah menanyakan jumlah tamu agar bisa diarahkan ke meja dengan jumlah orang yang tepat.
Namun, bila arahan pelayan itu bertentangan dengan keinginan konsumen hendaknya konsumen membicarakan baik-baik dengan pelayan atau manager.
Misalkan, konsumen berjumlah 4 orang dan ingin duduk di satu-satunya meja 8 orang.
Seorang pelayan membukakan pintu dan bertanya untuk berapa orang.
Ketika diarahkan ke meja dgn jumlah untuk 4 orang, konsumen marah-marah tanpa memberi kesempatan pelayan menjelaskan. Kemudian hendak komplain ke pemilik nama itu.
Ini adalah hasil didikan konsumen adalah raja di Indonesia.
Konsumen memang raja, tapi raja juga manusia dan manusia WAJIB berempati.
Dia membayar untuk dilayani, namun belum sempat dilayani sudah mau protes bilang layanan buruk.
Orang seperti itu adalah orang penuh kenegatifan.
Berbicara dengan lembut dan halus bisa, tapi malah marah dan membentak.
pendidikan yang dia enyam dulu hilang!
Orang punya harta harusnya makin berpendidikan!
Tapi orang di permisalan tadi malah makin KAMPUNGAN.
Raja yang baik adalah raja yang mampu BEREMPATI dengan rakyatnya.
Raja yang baik adalah raja yang paham rakyatnya yang melayani dia.
Anda ingin jadi orang berpendidikan??
Cukup jadilah manusia yang menghargai dan menghormati sesama manusia.
Perlakukan orang lain seperti anda ingin diperlakukan.
Cintai saja hidupmu, jangan kau keluhkan dan benci. Nikmati saja setiap harinya dengan senyuman. Cinta itu seperti pembodohan dan Hidup adalah permainan bodoh nan ironis. Tapi, nikmatilah setiap detiknya selagi kamu masih bisa.
Wednesday, December 19, 2012
Costumer dan Kemanusiaan
Friday, December 7, 2012
Sekolahan, Kurikulum, Gaji, dan Kualitas!
Di Indonesia, guru dianggap pekerjaan bergaji kecil dan susah.
Hanya Indonesia yang bisa begini padahal bertetangga dengan Singapore dan Eropa.
Gaji guru kecil sekali, namun tuntutan sangat tinggi dan berat.
Guru harus mencetak orang pandai, cekatan, rajin, dan ulet.
Mendidik karakter seseorang itu sangatlah berat dan penuh jatuh bangun.
12 tahun sekolah (bagi yang tambah ekstra 3 tahun yaitu SMA/SMK/STM) bisa jadi masih memiliki karakter yang buruk.
Bisa jadi salah guru dan murid karena kurang bekerja sama dalam membentuk karakter.
Belajar membentuk karakter adalah pelajaran tiada henti.
Banyak murid SMA/STM/SMK yang melakukan unas dan KBM dengan malas padahal saat ini nilai unas sangat berpengaruh. Nilai rapor dan USek itu sangat penting untuk menghasilkan nilai Ijazah.
Ijazah di Indonesia adalah dewa! Padahal sangat mudah dipalsukan. Nilai rapor saja bisa dimanipulasi.
Yang seharusnya dilihat itu adalah kemampuan langsung!
Sistem kita memiliki banyak kesalahan yang terbentuk sebagai akibat dari pola pikir yang salah.
Kalau mau merombak, rombak dulu isi kepala orangnya baru bereskan sistem.
Karena yang membangun sistem adalah orang-orang.
Sekolah seharusnya membangun bakat dan talenta anak, namun banyak sekolah hanya fokus pada nilai yang tertulis di kertas Ijazah.
Kualitas pengajaran, kualitas kesejahteraan, kualitas otak, kualitas hasil, dan kualitas pengajar perlu di perbaiki secepatnya dan sebaik-baiknya.
Thursday, November 22, 2012
Uang hanyalah Uang
Banyak orang akan mengecam pernyataan bahwa uang hanyalah uang.
Dewasa ini banyak sekali manusia yang menjual hidupnya untuk uang demi terlihat mewah dan keren.
Kehilangan masa muda untuk belajar keras untuk masuk universitas dan saat sadar, semuanya sudah terlewatkan.
Memang bisa saja mengumpulkan uang dan membangun karir yang bagus lalu keliling dunia memuaskan hasrat masa muda yang terbuang.
Namun, berapa banyak orang yang bisa seperti itu??
Bisa memiliki pekerjaan yang menjanjikan di usia produktif sehingga masih memiliki kekuatan untuk memuaskan hasrat pada umur 20an adalah hal yang besar, apalagi di jaman yang sudah banyak sekali manusia.
Pernyataan "uang hanyalah uang" akan terucap ketika seseorang melihat sendiri betapa kejamnya uang saat membutakan manusia.
Hati menjadi dingin dan mati. Bila hati mati, apakah bisa manusia masih disebut manusia??
Yang memanusiakan manusia adalah HATI.
Lebih baik hidup cukup dan sederhana daripada miskin karena ingin tampil mewah dengan jalan yang salah.
Bahagia itu dengan pola pikir yang benar dan banyak beramal serta bersyukur.
Di atas langit ada langit.
Hendaklah kita melihat ke bawah agar bisa bersyukur selalu.
Buka mata selalu agar uang tetap hanyalah uang.